Our Blog

Negara Ini Ancam Tarik Tarif Pajak Pengguna Media Sosial

Negara Ini Ancam Tarik Tarif Pajak Pengguna Media Sosial

Tax Consultant Jakarta – Dari informasi yang ada, sebenarnya ketiga media social terkemuka di dunia, yakni Twitter, facebook dan WhatsApp sempat menjadi layanan media online yang terlarang di Uganda, pada tahun 2016 lalu Uganda sembat melakukan pemblokiran akses pada ketiga aplikasi media social tersebut.

Pemerintah Uganda diketahui telah beberapa kali melakukan pemblokiran akses pada media social, keputusan untuk melakukan hal tersebut diperkuat berkat dukungan Presiden Uganda yakni Yoweri Museveni.

Kabarnya banyak orang yang menyuarakan petisi yang isinya tidak lain untuk melengserkan Yoweri Museveni dari jabatannya di medsos, sang presiden pun geram lantas memblokir akses media social pertama kalinya di Februari 2016.

 

Pajak adalah salah satu pemasukan negara, tiap negera menyesuaikan pemberlakukan pajak dengan kondisi setempat jadi tiap negara memiliki peraturan pajak yang berbeda-beda. Salah satu negara yang dilaporkan hendak menerapkan pajak unik beda dari yang lainnya adalah Uganda. Sebab, pemerintah dari negara tersebut merencankana pembebanan pajak pada warga yang aktif memakai media social.

Menurut Menteri Keuangan Uganda yakni Matia Kasaija, rencananya pajak yang akan dibebankan pada wajib pajak yang menggunakan Twitter, Facebook dan WhatsApp. Dan jumlah tarif pajak yang ditarik pemerintah mencapai 200 shiling atau setara dengan Rp. 747.

Dikutip dari Reuters, pada Senin (23-4-2018), peraturan pajak media social mulai diberlakukan Juli 2018 dengan tujuan untuk membantu meningkatkan kas negara, namun tetapi rencana ini banyak ditentang oleh elemen masyarakat. Ada pun salah satu pihak yang menyuarakan penolakan merupakan aktivis HAM dan blogger. Menurut Rosebell Kagumere, aturan ini tidka lebih dari upaya pemerintah untuk memberikan tekanan kebebasan masyarakat berkespresi.

Facebook, WhatsApp, Twitter Menjadi Terlarang Di Uganda

Keberadaan aturan tersebut disebut juga sangat bertentangan dengan kondisi saat ini yang terjadi di Afrika, berdasarkan data yang dihimpun oleh kelompok advokasi WWWF (world wide web foundation) ditemukan temuan jika biaya koneksi jaringan internet di Afrika termasuk salah satu yang paling tinggi.

Selain Uganda, ada negara Afrika lainnya yang turut menerapkan aturan sama, yaitu Tanzania. Negara tersebut mewajibkan warna negara yang memiliki situs atau pemilik blog membayar biaya lisensi tiap tahunnya sebesar 1 juta shillings atau setara dengan Rp. 6 juta.

Leave A Comment